Oleh: Robby Maulana Zulkarnaen — Pemerhati Kebudayaan, Cucu Buyut R.A.A. Wiranatakusumah V
Di tengah dinamika sejarah bangsa Indonesia, terdapat sosok yang memilih jalan sunyi dalam perjuangannya. Raden Adipati Aria (R.A.A.) Wiranatakusumah V, yang akrab disapa Aom Muharam, bukan hanya seorang bangsawan Sunda, tetapi juga negarawan sejati yang mengabdikan diri dalam diam, dengan mengedepankan keteladanan moral dan kepemimpinan berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Ia adalah cermin dari kepemimpinan yang menjunjung tinggi akhlak, menjembatani perbedaan, serta menyatukan bangsa dalam semangat persatuan.
Lahir pada tahun 1888, Aom Muharam menjalani perjalanan hidupnya dalam berbagai peran strategis, mulai dari Bupati Bandung (1920–1931), Wali Negara Pasundan, hingga menjabat sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia pada periode 1950–1959. Pada setiap tahap pengabdiannya, ia menunjukkan dedikasi tanpa pamrih, menjauhi sorotan dan ambisi kekuasaan, namun konsisten menjaga nilai-nilai dasar kehidupan berbangsa.
Kepemimpinannya sebagai Bupati Bandung ditandai dengan visi modernisasi yang kuat. Ia merintis pembangunan infrastruktur kota, memperkuat sektor pertanian, serta mendorong pendidikan bagi masyarakat pribumi. Ia adalah sosok progresif yang tidak sekadar membangun secara fisik, tetapi juga membentuk fondasi sosial dan intelektual bagi rakyatnya. Dalam tekanan kolonial, ia tetap berpihak pada kepentingan pribumi, menjalin diplomasi cerdas tanpa mengorbankan integritas.
Di bidang kebudayaan, Aom Muharam juga menunjukkan kepedulian mendalam. Ia gigih menyebarluaskan seni Mamaos Cianjuran, salah satu bentuk kesenian adiluhung tatar Sunda. Ketika menjabat sebagai Bupati Bandung dengan gelar R.A.A. Wiranatakusumah V, ia memopulerkan Mamaos di kalangan menak dan priyayi Bandung. Bahkan, ia secara khusus membawa seniman ternama Rd. Etje Madjid dari Cianjur ke Bandung untuk mengajarkan Mamaos kepada kalangan bangsawan. Upayanya ini kelak membuat seni Mamaos tidak hanya lestari, tetapi juga dikenal luas dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa Barat hingga kini.
Nilai-nilai Pancasila tercermin kuat dalam tindakannya. Dalam hal Ketuhanan, ia menjaga moralitas kepemimpinan dengan kesalehan dan toleransi. Kemanusiaan ia terjemahkan dalam kebijakan yang welas asih. Saat menjabat sebagai Wali Negara Pasundan, sikap moderatnya mencerminkan semangat Persatuan Indonesia—menolak desakan Belanda untuk memecah belah bangsa dan memilih merapat pada Republik. Dalam perannya di Dewan Pertimbangan Agung, ia menjadi teladan musyawarah, menjunjung prinsip demokrasi tanpa haus kuasa. Sementara dalam pembangunan sosial, ia berjuang menegakkan keadilan, mengembangkan organisasi rakyat, dan memajukan pendidikan serta kesejahteraan umum.
R.A.A. Wiranatakusumah V tidak menulis Pancasila, tetapi menghidupkannya. Ia tidak menjadikan Pancasila sebagai slogan, melainkan sebagai jiwa dalam setiap kebijakan dan langkah hidupnya. Keteladanan itu kini menjadi semakin relevan, saat kita menyaksikan lunturnya etika dalam politik dan melemahnya integritas dalam kekuasaan.
Di tengah krisis nilai yang melanda bangsa ini, sosok seperti Aom Muharam adalah penanda bahwa Indonesia pernah dipandu oleh pemimpin berhati jernih. Ia tidak memanfaatkan jabatan untuk menumpuk kuasa, melainkan untuk menjaga keseimbangan antara pusat dan daerah, antara adat dan pembangunan, antara kearifan lokal dan cita-cita nasional.
Sudah saatnya warisan moral ini tidak hanya dikenang oleh keturunannya, tetapi juga dihargai oleh bangsa ini. Melalui pendidikan, dokumentasi sejarah, hingga penghargaan formal seperti gelar pahlawan nasional, kita perlu menghadirkan kembali teladan sunyi ini ke dalam kesadaran publik. Bukan untuk memuja pribadi, melainkan untuk membangkitkan semangat kepemimpinan yang jujur, arif, dan bersandar pada nilai luhur bangsa.
R.A.A. Wiranatakusumah V — Aom Muharam — mengajarkan bahwa kepemimpinan sejati tidak perlu riuh. Dalam diamnya, tersimpan pesan kuat: bahwa menjadi pemimpin berarti melayani, bukan menguasai. Dan di sanalah, Pancasila menemukan bentuk nyatanya.***





