Oleh: Falah Amru
Keluar dari Partai Komunis Indonesia tahun 1952 dan wafat di Medan tahun 1960. Jurnalis jempolan intens keras melawan Belanda lewat karya persnya. Tokoh yang yang layak diceritakan dalam sejarah bangsa….
Tahun kelahirannya sama dengan Ir. Soekarno, 1901. Lahir di Idi Rayeuk, Aceh berpendidikan baik, 3 tahun di sekolah menengah Belanda. Kiprah awal sebagai juru gambar di Dinas Pekerjaan Umum Lhokseumawe, aktif dalam organisasi Vereeniging van Inlandsche Personelen bij Openbare Werken, dalam Indonesia, Perhimpunan Bumiputera pada Dinas Pekerjaan Umum. Ia juga anggota Indische Partij ketua cabang Lhokseumawe, sampai dinasnya dipindahkan ke Padang tahun 1920.
Di dunia pers, ia cukup dikenal di jamannya. Pendiri majalah Penjedar, editor suratkabar Hindia Sepakat (Sibolga) juga eksis di koran Oetoesan Ra’jat di Langsa. Di wilayah inilah ia bergabung dengan Partai Komunis Indonesia dan jadi Badan Pekerja Nasional di partai itu. Giatnya melawan Belanda sangat intes, seperti keterlibatannya dalam pemberontakan PKI tahun 1926 hingga dihukum pembuangan ke Digul, Papua Selatan. Masuk tahun 1932, dia dibebaskan namun tak boleh balik ke Aceh. Xarim akhirnya tinggal di Medan dan menerbitkan buku berjudul Pandu Anak Buangan. Dia tetap jadi wartawan aktif namun reportasenya non-politik dan sempat menulis buku biografi Teuku Umar (1939). Sejarawan Anthony Reid menyebutnya komunis berselera borjuis.
Di jaman Jepang, ia dan yang sehaluan memilih kooperatif karena percaya Jepang punya misi mulia : membebaskan Negri-Negri Selatan, kordinasi kolone ke-5 Jepang sebagai Fujiwara-Kikan atau F-Kikan. Xarim termasuk politisi yang melakukan hubungan rahasia denegan konsulat Jepang bersama Radja Moelamanik. Tahun 1941, perang Jepang-Sekutu membuat keduanya ditangkap Belanda dan dibuang ke Jawa dan baru bebas setelah Jepang menduduki Indonesia. Hayasaki, mantan konsul Jepang di Medang kembali berkordinasi dengan Xarim dan Moelamanik, mendaulat mereka jadi penasehat Jepang di jaman pendudukan. Karirnya berkembang lagi sebagai pemimpin Public Relations Kantor Kotapraja Medan 1943.
Kiprahnya membantu Jepang memang menonjol. Bersama H. Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan Buya Hamka, dikirim Jepang ke Aceh meredam pemberontakan, ia juga merekrut anggota Heiho di Medan agar orang Indonesia bisa menentukan nasibnya sendiri, menggelorakan semangat nasionalisme dengan slogan-Kehormatan Bagi Bangsa dan Tanah Air dapat kita tebus hanya dengan darah kita sendiri.-Kalian Pemuda harapa bangsa, pergunakankah kesempatan ini untuk memperlihatkan dan membuktikan pada Ibu Indonesia bahwa semangat dan harga diri mengangkat Tanah Air-masih tetap menyala dalam diri kalian- Dalam berbagai rapat terbuka di kota-kota besar, ia kerap berorasi: “hidup baru untuk bangsa kita dan rakyat kita sekarang tergantung pada diri sendiri, tergantung pada daya upaya kita sendiri. Saya percaya orang Indonesia sekarang punya semangat dan keberanian, semangat siap mati demi hidup!”- “Berjuang bersama dengan atau tanpa Jepang.”
Ikut perkembangan di Jawa, ia disokong Jepang aktif dalam tugas pertahanan teritorial garis pantai kepulauan sumatra yang panjang. Mereka mempersiapkan pemuda berhaluan nasionalis, mempersenjatainya dalam Giyugun alias PETA (Pembela Tanah Air) dengan iming-iming gaji f150 sampai berpangkat kapten,sama dengan tentara Jepang sendiri. Saat Jepang menyerah pada sekutu, perjuangannya berlanjut dengan membentuk pasukan bermodal 20 pucuk pistol dipimpin Nip Xarim, putranya sendiri. Di masa revolusi, Xarim jadi penghubung antara para pemuda di Sumatra dengan pemimpin republik di Jawa, sekaligus mengkordinir pejuang-pejuang di Medan. Di 27 Desember 1945, bersama Mr. Hasan ia juga jadi juru runding menghentikan baku tembak antara Jepang dan pemuda-pemuda Aceh.
Saat Revolusi Nasional Indonesia berakhir pada 1949, ia tetap tinggal di Medan dan diangkat sebagai penasihat militer untuk Alexander Evert Kawilarang , komandan keamanan di Sumatera Utara . Putranya Nip Xarim menjadi komandan militer di Tentara Nasional Indonesia Menurut beberapa sumber, ia menyatakan keluar dari PKI tahun 1952 dan resmi dikeluarkan setahun kemudian, meninggal di Medan pada 25 November 1960.***





