POHO KANA PURWADAKSI Sebuah Amnesia Kebangsaan

Penulis – Robby Maulana Zulkarnaen

Bangsa yang kehilangan kekayaannya masih dapat membangunnya kembali. Bangsa yang kehilangan kekuasaannya masih dapat merebutnya kembali. Tetapi bangsa yang kehilangan ingatannya akan kesulitan mengenali dirinya sendiri.

Dalam khazanah Sunda terdapat ungkapan Poho Kana Purwadaksi. Lupa pada asal pijakan. Lupa pada arah perjalanan. Lupa pada tujuan yang hendak dicapai.

Barangkali itulah yang sedang terjadi pada bangsa ini.

Kemerdekaan tidak diperjuangkan agar bangsa ini sekadar berganti penguasa.
Kemerdekaan diperjuangkan untuk mewujudkan cita-cita: keadilan, martabat, kedaulatan dan kesejahteraan rakyat.

Masihkah cita-cita itu menjadi arah perjalanan bangsa?

Bangsa ini tidak sedang kekurangan sumber daya. Tidak sedang kekurangan orang pintar. Tidak sedang kekurangan pemimpin. Yang mulai langka adalah ingatan tentang mengapa semua itu dahulu diperjuangkan.

Kita menyaksikan korupsi yang terus berulang, penyalahgunaan kewenangan yang semakin terbuka, serta jabatan yang semestinya amanah berubah menjadi akses menuju berbagai kepentingan.

Yang mengkhawatirkan bukan hanya besarnya kerugian negara.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah berubahnya cara pandang terhadap amanah.

Korupsi tidak lagi dipandang sebagai pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat. Ia perlahan berubah menjadi perlombaan. Perlombaan memanfaatkan jabatan sebelum jabatan itu berakhir. Perlombaan mengubah kewenangan menjadi kekayaan. Perlombaan memanfaatkan kekuasaan sebelum kekuasaan berpindah tangan.

Ketika keadaan seperti itu dianggap biasa, yang sedang runtuh bukan hanya keuangan negara.

Yang sedang runtuh adalah makna amanah itu sendiri.

Kekuasaan tidak lagi dipahami sebagai pengabdian. Jabatan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab. Keberhasilan diukur dari apa yang dimiliki, bukan dari apa yang diwariskan. Kemajuan diukur dari pertumbuhan, bukan dari kematangan.

Pendidikan lebih sibuk mencetak kompetensi daripada membangun karakter. Budaya lebih sering dipamerkan sebagai simbol daripada dihidupkan sebagai nilai. Akibatnya bangsa ini tetap bergerak, tetapi perlahan kehilangan arah.

Kita membangun banyak hal, tetapi semakin jarang bertanya: untuk tujuan apa semua itu dibangun?

Mungkin persoalan terbesar bangsa ini bukan krisis ekonomi. Bukan krisis politik. Bukan krisis hukum.

Melainkan krisis kesadaran.

Kita mulai lupa mengapa bangsa ini didirikan. Lupa untuk siapa kekuasaan dijalankan. Lupa bahwa kemerdekaan bukan warisan untuk dinikmati, melainkan amanah yang harus dijaga.

Inilah yang diminta oleh leluhur kita :

Ulah Poho Kana Purwadaksi.
Nagara nu baheulana cageur ayeuna menta cageur.
Nagara nu baheulana bageur ayeuna menta bageur.
Nagara nu baheula bener ayeuna menta bener.
Ngadeg deui nagara pageuh tunjung sampurna.***

You cannot copy content of this page