Sekolah “MAUNG”- Nu Matak Bingung

Penulis: Robby Maulana Zulkarnaen

Bagi masyarakat Sunda, maung bukan sekadar harimau. Ia adalah simbol kebanggaan, perlambang keberanian yang disertai kecermatan, kekuatan yang berjalan bersama kebijaksanaan. Maung tidak dikenal sebagai makhluk yang gegabah. Ia disegani karena mampu membaca keadaan, mengukur langkah lalu bergerak dengan tepat.

Karena itu, ketika Pemerintah Provinsi Jawa Barat meluncurkan program pendidikan bernama Sekolah MAUNG (Manusia Unggul), masyarakat pun menyambutnya dengan harapan yang besar. Nama tersebut menghadirkan optimisme tentang lahirnya generasi yang tangguh, cerdas, dan berkarakter melalui tata kelola pendidikan yang lebih baik. Sebuah gagasan yang terdengar menjanjikan.

Namun, sebagaimana kebijakan publik pada umumnya, harapan tidak diuji oleh nama atau niat baik, melainkan oleh pelaksanaannya.

Ketika Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) mulai berjalan, berbagai keluhan bermunculan. Gangguan aplikasi, perubahan data yang sulit dipahami, hingga minimnya kejelasan informasi membuat banyak orang tua dan calon peserta didik diliputi ketidakpastian. Perhatian publik yang semula tertuju pada cita-cita besar program tersebut perlahan bergeser pada pertanyaan yang lebih mendasar : apakah sistemnya benar-benar siap?

Di situlah ironi itu mulai terasa.

MAUNG yang seharusnya tampil sebagai simbol ketangguhan dan kesiapan justru menghadirkan kesan yang sebaliknya. Publik berharap melihat Maung nu siap tarung, lain Maung nu keur bingung. Bukan karena gagasannya keliru, melainkan karena pelaksanaannya belum mampu meyakinkan. Padahal seekor maung tidak memasuki arena sebelum siap bertarung. Ia mengukur keadaan, memastikan kekuatannya lalu melangkah dengan pasti.

Pribahasa sunda menyampaikan “sing asak jeujeuhan”. Sebuah nasihat agar setiap keputusan lahir dari pertimbangan yang matang, perhitungan yang cermat dan kesiapan yang sungguh-sungguh. Dalam pandangan Sunda, ketergesaan sering kali bukan tanda keberanian, melainkan pertanda kurangnya kehati-hatian.
Rasulullah SAW pernah bersabda:”Sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut, tenang dan tidak tergesa-gesa dalam segala urusan.” (HR. Muslim)

Pesan ini mengingatkan bahwa tidak semua yang bergerak cepat akan menghasilkan kebaikan. Ada kalanya sebuah langkah perlu diperlambat agar hasilnya tidak menyisakan persoalan yang lebih besar di kemudian hari.

Karena itu, kritik terhadap pelaksanaan SPMB bukanlah penolakan terhadap cita-cita melahirkan manusia unggul. Justru sebaliknya. Jika yang ingin dibangun adalah manusia unggul, maka yang pertama kali harus unggul adalah sistemnya. Keunggulan tidak lahir dari nama yang gagah, apalagi dari gagasan yang lebih sibuk dipertontonkan agar viral daripada dipersiapkan secara matang. Keunggulan lahir dari perencanaan yang cermat, pengujian yang memadai, dan pelaksanaan yang mampu menjawab kenyataan di lapangan. Sebab dalam pendidikan, yang dibutuhkan masyarakat bukan sensasi sebuah program, melainkan kepastian bahwa program tersebut benar-benar siap dijalankan.

Pada akhirnya, masyarakat Jawa Barat tentu berharap Sekolah MAUNG benar-benar menjadi ikhtiar untuk melahirkan generasi yang berkualitas, bukan sekadar slogan yang terdengar megah. Sebab pendidikan bukan ruang untuk mempertaruhkan popularitas, melainkan amanah untuk menyiapkan masa depan.

Sebab maung tidak dikenal karena seringnya mengaum, melainkan karena ketepatan langkahnya. Ia bergerak dengan hati-hati, taliti sangkan pasti, membaca keadaan sebelum mengambil keputusan. Maung yang sejati tidak mengandalkan gemuruh suara demi ketenaran, tetapi memastikan setiap tindakannya membawa hasil yang pasti.

Dan dalam urusan kebijakan publik, rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang pandai mengaum. Rakyat membutuhkan keputusan yang matang, terukur dan dapat dipercaya.***

You cannot copy content of this page