LINI PIKIR GEUNJLEUNG JAGAT Membaca Gejolak Bangsa

Penulis – Robby Maulana Zulkarnaen

Leluhur Sunda mewariskan banyak pitutur yang lahir dari perenungan panjang terhadap kehidupan manusia. Di balik ungkapan-ungkapan yang sederhana, tersimpan cara pandang yang mampu menjelaskan hubungan antara kehidupan rakyat dan ketenteraman sebuah negeri. Salah satunya adalah Lini Pikir Geunjleung Jagat.

Ungkapan ini mengajarkan bahwa setiap gejolak sosial selalu memiliki akar yang lebih dalam daripada apa yang tampak di permukaan. Demonstrasi, aksi mahasiswa, kritik di ruang publik, hingga berbagai bentuk keresahan masyarakat bukanlah peristiwa yang lahir secara tiba-tiba. Semuanya merupakan akibat dari proses panjang yang lebih dahulu berlangsung di dalam kehidupan rakyat.

Hari-hari ini, kita menyaksikan berbagai demonstrasi terjadi di sejumlah daerah. Mahasiswa kembali menjadi garda terdepan dalam menyuarakan aspirasi. Di saat yang sama, media sosial dipenuhi kritik, kekecewaan dan berbagai tuntutan perubahan. Sebagian memandangnya sebagai dinamika demokrasi, sebagian lagi melihatnya sebagai ancaman terhadap stabilitas.

Namun apabila dibaca melalui falsafah Sunda, perhatian kita tidak berhenti pada demonstrasinya. Yang lebih penting adalah memahami mengapa demonstrasi itu terjadi.

Dalam pandangan leluhur Sunda, keadaan tersebut bermula dari Lini Pikir, yaitu ketika kehidupan rakyat terus-menerus berada dalam tekanan. Tekanan ekonomi membuat kebutuhan hidup semakin sulit dipenuhi. Harga kebutuhan pokok meningkat, lapangan pekerjaan semakin terbatas, daya beli melemah dan banyak keluarga hidup dalam ketidakpastian. Bersamaan dengan itu, penegakan hukum belum sepenuhnya menghadirkan keadilan yang diharapkan masyarakat, sementara berbagai kebijakan politik belum memberikan kepastian arah maupun keberpihakan yang benar-benar dirasakan oleh rakyat. Berbagai persoalan lain, seperti meningkatnya kriminalitas, penyalahgunaan narkotika serta derasnya arus informasi yang saling bertentangan, semakin menambah beban kehidupan sehari-hari.

Pada awalnya, semua tekanan tersebut dipikul secara sendiri-sendiri. Setiap orang berusaha menyelesaikan persoalannya masing-masing. Akan tetapi, ketika himpitan itu dialami oleh sebagian besar masyarakat dalam waktu yang bersamaan, tekanan batin tidak lagi menjadi persoalan pribadi. Ia berubah menjadi keresahan kolektif.

Di titik itulah lahir Geunjleung Jagat.

Geunjleung jagat bukan sekadar keramaian di jalanan, melainkan gejolak sosial yang muncul ketika keresahan masyarakat tidak lagi mampu dipendam. Demonstrasi, kritik yang semakin tajam, gerakan mahasiswa, aksi buruh, hingga berbagai bentuk ekspresi sosial lainnya merupakan pertanda bahwa tekanan batin telah berkembang menjadi kegelisahan bersama.

Sejarah menunjukkan bahwa mahasiswa hampir selalu hadir dalam setiap momentum perubahan. Bukan karena mereka menciptakan kegelisahan itu, melainkan karena mereka menjadi kelompok yang paling cepat menangkap denyut persoalan yang sedang dirasakan masyarakat. Apa yang mereka suarakan sesungguhnya adalah pantulan dari suara rakyat yang telah lama hidup dalam tekanan.

Dari sudut pandang ini, demonstrasi tidak semestinya hanya dipahami sebagai persoalan keamanan dan ketertiban. Ia merupakan isyarat bahwa terdapat persoalan mendasar yang memerlukan perhatian serius. Apabila yang diatasi hanya gejolak di permukaan, sementara akar persoalannya tetap dibiarkan, maka ketenangan yang tercipta hanyalah sementara.

Karena itu, perhatian para pemangku kebijakan seharusnya tidak hanya tertuju pada bagaimana meredakan demonstrasi, tetapi juga pada bagaimana menghilangkan sebab-sebab yang melahirkan Lini Pikir. Ketika kebutuhan hidup rakyat semakin sulit dipenuhi, keadilan hukum belum dirasakan secara utuh dan kebijakan publik belum memberikan kepastian yang menenteramkan, maka tekanan batin akan terus tumbuh. Selama tekanan itu terus terakumulasi, gejolak sosial akan selalu menemukan ruang untuk muncul dalam bentuk yang berbeda.

Falsafah Sunda mengingatkan bahwa ketenteraman sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kuatnya institusi negara, tetapi juga oleh tenangnya kehidupan rakyat. Menjaga stabilitas bukan semata menjaga ketertiban, melainkan memastikan bahwa masyarakat dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, memperoleh keadilan dan merasakan kepastian dalam setiap kebijakan yang menyangkut kehidupannya.

Pada akhirnya, Lini Pikir Geunjleung Jagat bukan hanya milik kebudayaan Sunda. Hampir seluruh kearifan Nusantara mengajarkan nilai yang serupa, meskipun diungkapkan melalui bahasa dan simbol yang berbeda. Para leluhur di berbagai daerah sama-sama mengingatkan bahwa gejolak yang tampak di permukaan selalu berawal dari persoalan yang dibiarkan berlarut di tengah kehidupan rakyat.

Barangkali inilah saatnya kita kembali membaca warisan kebijaksanaan Nusantara, bukan sekadar sebagai peninggalan budaya, melainkan sebagai sumber nilai untuk memahami dan menata kehidupan berbangsa. Sebab, ketika rakyat tidak lagi hidup dalam Lini Pikir, niscaya Geunjleung Jagat pun tidak akan menemukan ruang untuk tumbuh.

“Moal geunjleung ieu jagat, lamun rahayatna teu lini pikir.”***

You cannot copy content of this page