Pajajaran Anyar

Oleh – Robby Maulana Zulkarnaen

Ada saat ketika sejarah tidak lagi sekadar diceritakan sebagai kenangan, tetapi hadir sebagai cermin yang memantulkan arah masa depan. Dari Uga Wangsit Siliwangi, sesungguhnya kita telah lama menerima petunjuk yang terang “Hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman. Jig geura narindak, tapi ulah ngalieuk ka tukang.”Pesan ini menegaskan bahwa masa lalu adalah sumber hikmah, bukan tempat untuk terjebak dalam romantisme. Ia hadir sebagai suluh yang menerangi jalan, bukan singgasana yang harus disembah.

Namun hari ini, pelestarian budaya sering terperangkap dalam gambaran simbolik yang miskin makna. Kita menyaksikan kereta kencana dijadikan objek pemusatan perhatian, kursi kosong diperlakukan seolah memiliki kekuatan gaib, gapura megah berdiri tanpa nilai filosofis, bahkan sesajen hadir di ruang birokrasi yang seharusnya menjadi pusat pelayanan publik. Ketika simbol lebih menguasai ruang daripada kerja, pemerintahan bergeser dari pengabdian menuju pertunjukan halusinatif yang tidak membawa rakyat pada kemajuan.

Justru di tengah kegaduhan simbol ini, bait Sangkakala Pajajaran menyampaikan panggilan yang jauh lebih jernih:

“Reungeukeun tuh sangkakala,Sangkakala Padjajaran tangara.Mangsa mapag jaman anyar,Mangsa Ki Sunda tandang.Rempug jukung sauyunan…Tembongkeun ajen wewesen, satria nu Pinandita.Teuas peureup lemes usap,Pageuh kepel lega awur.Silih asah, silih asih bari adil paramarta.Sibatria pilih tanding, Raden tedak Pasundan.”

Nilai yang diangkat oleh sangkakala ini bukanlah ritual tanpa substansi, tetapi panggilan untuk kembali menjadi manusia Sunda yang berkarakter, kuat namun halus, tegas namun tetap beradab, memimpin tanpa kehilangan kesantunan. Inilah karakter yang seharusnya menjiwai kepemimpinan Jawa Barat hari ini, bukan sekadar pencitraan budaya yang kosong.

Secara deduktif, kebangkitan Sunda bukanlah mimpi. Selama nilai masih hidup dan manusia Sunda memiliki potensi, kebangkitan adalah hal yang mungkin digapai. Namun potensi itu akan sia-sia bila budaya hanya dijadikan dekorasi untuk menutupi minimnya kualitas kepemimpinan. Pelestarian budaya sejati adalah penghidupan nilai, bukan memoles simbol. Untuk menegakkan Pajajaran Anyar, kita perlu strategi yang menyiapkan manusia Sunda menjadi aktor utama, bukan figuran. Nilai silih asah–silih asih–silih asuh harus kembali menjadi DNA peradaban, bukan sekadar slogan yang diucapkan tanpa tindakan.

Pajajaran Anyar menuntut pembenahan pendidikan, penguatan literasi ekonomi, penguasaan teknologi, dan partisipasi politik yang rasional. Identitas budaya harus menjadi tulang punggung moral dan kecerdasan, bukan kostum pertunjukan. Generasi muda Sunda harus berani memasuki ruang bisnis, inovasi, menjadi pelaku yang menentukan arah zaman, bukan penonton di tanahnya sendiri.

Inilah sebabnya kita membutuhkan generasi Panca Waluya yang cageur, bageur, bener, pinter, singer, manusia yang sehat, jujur, lurus, cerdas, dan tangguh. Mereka adalah fondasi hidupnya Pajajaran Anyar. Bukan simbol, bukan benda-benda keramat, tapi karakter manusia yang menghidupkan nilai dalam kehidupan sehari-hari.

Alih-alih terjebak dalam bayang-bayang masa silam, panggilan leluhur hari ini menuntun kita untuk menapaki masa depan dengan kesadaran baru. Bukan simbol yang akan menuntun kebangkitan Sunda, melainkan kejernihan berpikir, keteguhan watak, dan kerja nyata yang berpihak pada rakyat. Hanya dengan itulah Pajajaran Anyar dapat berdiri sebagai peradaban yang hidup, bukan sekadar cerita yang didendangkan, tetapi membentuk manusia yang Rancag batan kuda lumpat nu tarikna ku dedegungan, kebat ka bale rancagé, semangat bergerak cepat dengan irama yang harmonis, menuju ruang kreativitas dan masa depan.Dan ketika langkah itu dimulai, maka Pajajaran Anyar akan berdiri Kembali menyongsong masa depan yang lebih baik karena lahir dari kecerdasan, keteguhan, dan pengabdian.

Urang moal tandang mun saukur nonton kaayaan.

You cannot copy content of this page