Oleh :Robby Maulana Zulkarnaen
Kalabendu atau zaman sukar, sengsara, angkara murka dan petaka.dalam tradisi Sunda dan Jawa bukan hanya sekadar kisah masa silam, melainkan peringatan tentang zaman rusuh ketika moral runtuh, kebenaran dibisukan, alam dieksploitasi, dan rakyat menanggung akibatnya. Ia adalah metafora gelap dari kegagalan manusia menjaga keseimbangan hidup.
Sunda mewariskan konsep panca gati, lima gerak batin manusia yaitu; nafsu, budi, cipta, karsa, dan rasa. Bila ditata dengan adil dan bijaksana, panca gati melahirkan pribadi utama dan harmoni sosial. Tetapi bila dikuasai nafsu dan serakah, ia membuka jalan menuju kalabendu. Pepatah Sunda mengingatkan: “napsu nu matak kaduhung, awak nu katempuhan” nafsu liar akhirnya membawa penyesalan dan penderitaan.
Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian (1518 M) menekankan pentingnya pendidikan budi dan tata susila sebagai pagar pertama dari kekacauan. Amanat Galunggung menegaskan amanah, kejujuran, dan keseimbangan hidup. Ketika pagar-pagar ini runtuh, masyarakat terjerumus dalam kalabendu.
Kenyataan Indonesia hari ini menunjukkan tanda-tanda itu. Korupsi menumbuhkan defisit kepercayaan, kecurangan dianggap lumrah, hukum terasa tak simetris. Kerusakan lingkungan banjir, longsor, udara tercemar adalah buah keputusan yang mengabaikan etika ekologi, menomorsatukan laba di atas keselamatan bersama.
Al-Qur’an pun mengingatkan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum [30]:41). Pesan ini selaras dengan panca gati: ketika adil dan ihsan ditegakkan, harmoni terjaga, ketika dikalahkan keserakahan, kalabendu adalah akibat yang tak terelakkan.
Jalan keluar pun ada pada perilaku. Tradisi Sunda mengajarkan pengendalian diri, amanah, musyawarah, gotong royong, dan rasa malu kepada Tuhan. Dalam ruang kebijakan, ini berarti transparansi yang konsisten, keteladanan pemimpin, serta pendidikan karakter yang mengikat nilai budaya dengan ajaran agama bukan hanya untuk dihafal, tetapi dijalani.
Setiap langkah adalah sejarah. Bila panca gati gagal ditata, kalabendu akan lahir sebagai warisan pahit. Namun bila nafsu ditundukkan oleh budi, amanah dijunjung, dan alam dijaga, maka generasi mendatang akan terwarisi kisah kebangkitan, bukan kejatuhan.
Sebagaimana pesan R.A.A. Wiranatakusumah V: “Lamun hayang mulya rahayat, kudu mulya heula pamingpinna” jika ingin rakyat mulia, pemimpin harus lebih dahulu mulia. Pesan ini adalah cermin kewajiban kita semua, menata diri dan menata negeri agar jauh dari kalabendu.***





