Oleh: Robby Maulana Zulkarnaen
Dari Pupuh Kinanti ke Fenomena Hari Ini
Ada sebuah pupuh Kinanti yang samar-samar menyeruak dari ingatan masa silam, barangkali lahir di era 1960–1970-an. Pupuh itu bertajuk “Budak Leutik Bisa Ngapung”, sebuah tembang yang tampak sederhana, namun menyimpan lapisan makna yang dalam. Dalam bentuknya, ia hanyalah lirik puisi yang disenandungkan dengan nada lembut, menuturkan teka-teki tentang makhluk malam yang dapat terbang di kegelapan, menggantung di siang hari, lalu bergerak bebas ketika cahaya menghilang, yaitu kelelawar.
Namun, sebagaimana karya tradisi yang selalu berlapis makna, pupuh ini sejatinya tak berhenti pada tebak-tebakan tentang binatang. Ia adalah sindiran halus, kritik sosial yang diselubungi kias, mengabarkan sesuatu tentang manusia dan kekuasaan.
Tulisan ini bukanlah terjemahan atau tafsir resmi dari Pupuh Kinanti tersebut, melainkan opini pribadi, sebuah renungan yang mencoba membaca ulang pesan moral di balik tembang itu dengan kacamata zaman sekarang.
“Budak leutik bisa ngapung” seorang anak kecil, yang belum matang, tiba-tiba diberi sayap untuk terbang tinggi. Ia terangkat bukan karena kematangan dan proses, melainkan oleh keadaan yang memaksanya melampaui kesiapan. Ia hidup dari bayangan, bergerak dalam gelap, dan kehilangan arah ketika terang datang.
Kiasan itu menyinggung fenomena yang masih terasa hari ini: ketika kedudukan tinggi dipercayakan kepada mereka yang belum cukup matang secara ilmu maupun nurani. Dalam langit kepemimpinan, mereka ibarat kelelawar yang mencoba mendampingi elang perkasa, hanya untuk sadar bahwa cahaya bukan wilayahnya. Kepemimpinan, sebagaimana kebijaksanaan, menuntut proses panjang. Elang yang gagah di langit bukan hasil tempelan sayap, melainkan buah perjalanan dan ujian.
Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Apabila suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari). Sementara Plato, jauh sebelum itu, menulis dalam nada yang serupa: “Negara akan runtuh ketika dipimpin oleh mereka yang masih kanak-kanak dalam kebijaksanaan.” Dua suara dari dua peradaban yang berbeda, namun menyatu dalam satu pesan, kekuasaan tanpa kedewasaan hanyalah jalan menuju kejatuhan.
Sejarah pun menyajikan cermin yang sama. Dunia pernah menyaksikan Imelda Marcos di Filipina, bukan hadir sebagai buah kapasitas, melainkan sebagai bayangan kekuasaan. Popularitas dan jejaring politik mengangkatnya tinggi, tetapi yang tersisa hanyalah kemewahan tanpa makna dan politik tanpa jiwa. Sebuah potret bagaimana “budak leutik” dapat “ngapung”, bukan karena layak, melainkan karena sistem yang membiarkan kegelapan menutupi cahaya.
Pupuh Kinanti ini, dengan segala kesederhanaannya, ternyata menyimpan daya tegur yang luar biasa. Ia bukan sekadar tembang lama, tetapi pesan moral tentang tatanan dan kedewasaan. “Budak leutik bisa ngapung” menjadi simbol tentang bagaimana jabatan tanpa kapasitas akan menjerumuskan bukan hanya sang pemegangnya, tetapi juga mereka yang ditinggalkannya di bawah bayang gelap.
Maka, pertanyaan akhirnya bukan lagi tentang siapa kelelawar itu, melainkan tentang kita, apakah kita masih menyanjung yang terbang di gelap, ataukah sudah belajar menatap terang bersama sang elang? Pupuh ini menuntun kita untuk merenung, apakah bangsa ini tengah menuju cahaya kebijaksanaan, atau justru sedang menari di kegelapan, dalam tarian kelelawar yang tak mengenal arah?





