By Isfandiari MD
Terjadi dua sinergi apik soal kesejarahan. Satu dari Ecolo Francaise d’Extreme –Orient (EFEO), peneliti Perancis, dan mitranya arkeolog nasional (PPAM) di Lobu Tua (1995-2000). Walau beda bangsa, mereka deal-sepakat: Barus, Tapanuli Tengah Sumut, bebuka alias gerbang masuknya Islam di Nusantara. Garis tebal lagi, rakyat yang dulu dipimpin Sultan Ibrahimsyah dicatat awal Islam di Swarnadwipa (Sumatra) dan terus menyebar seantero Nusantara.
Wajar kalau buah pikir mereka tidak ajeg! Open for discussion, adalah versi lain. Tapi namanya ilmuwan, keduanya setor data ilmiah. Ada bukti komplek makam Syech Rukhnuddin wafat di 672 Masehi atau 48 Hijriah berdasar epitaf nisan. Disebut kompleks karena ada makam-makam lain, Syech Zainal Abidin Ilyas Syamsudin, Imam Khatib Muddah, Syech Imam Muadhdam dari negeri Fansuri pengikut syech Syamsudin. Zona ini di rangkul pemerintah setempat sebagai Cagar Budaya Peringkat Nasional berdasarkan SK Menteri bernomor PM.88/PW.007/MKP/2011.
Para arkeolog getol sodorkan bukti. Ditemukan 11 artefak-makam, paling menonjol, Makam Syech Mahmudsyah Papan Tinggi di atas bukit,800 anak tangga,Desa Pananggahan Kecamatan Utara Tapanuli Tengah. Angka tahun, Abad ke-7 sekitar 640-an. Masih di lokasi, bersemayam wanita mulia,Siti Tuhar Amisuri (abad 13-14 Safar 602 Hijriah-6 Oktober 1205 Masehi), tokoh ini tercatat 94 tahun lebih tua dari makam Sultan Malik As Shaleh Meunasah Beringin Kutakarang Aceh.
Kuasa Allah-berkah, saat ziarah bertemu Tuanku Alamsyah Arif Rahmasnyah Marbun, ketua PBNU, ketua Forum Kebaragaman Nusantara, Ketua Jami’ah Batak Muslim (JBI). Dia komentar,”Saya dan rombongan ziarah ke makam beliau, Syech Mahmudsyah, leluhur kami, tokoh panutan yang selalu menjadi cahaya yang menyinari Nusantara,” jelas sosok perlente, keturunan raja Barus, Sultan Ibrahimsyah.
Hadir sepenggal info, Islam masuk ke Barus di abad ke-7 Masehi lewat pedagang Arab. Arif memberi bonus keterangan, “sebelum Islam zona ini sudah jadi tujuan perdagangan.” Ini relevan dengan manukrip tentang Barus yang diedit Jane Drakard-Barus Kingdom, laporan ikhwal kerajaan Barus, ekspor Kapur Barus dan manuskrip-manuskrip lain yang berkisah titik masuknya Islam di Nusantara.
Atau keterangan Marcopolo, pemuda Kristen asal Venesia yang singgah di Sumatra menunggu cuaca baik sebelum pulang ke Eropa dari Sowan Kubilai Khan, Mongol- Cina (1292).Dia saksi peradaban Islam di sana plus romantika raja-raja kesultanan masa silam. ”Sejak jaman nabi Musa, pengelana mencari sesuatu yang paling berharga, rempah, wewangian dan Kapur Barus, pengawet mumi era Fir’aun. Bukan melulu pengelana Arab dan Mesir tapi juga Armenia sampai Tingkok,” jelas Arif.
Tokoh muda asli Barus ini tercatat giat memperkenalkan daerahnya. Salah satunya ikhtiar membangun Tugu Peradaban Islam Nusantara yang diresmikan presiden Joko Widodo, diteruskan kunjungan Wakil Presiden di KH. Ma’ruf Amin.
Tugu ini kokoh berdiri di pantai Barus, dikunjungi pemerhati sejarah, ulama-santri atau yang sekedar pelesir.





