Oleh: Robby Maulana Zulkarnaen
Judul ini adalah terjemahan dari kawih Mang Koko yang bersumber dari surat pendek dalam Al-Qur’an, surat ke-103: Al-‘Asr. Pendek dalam jumlah ayat tetapi panjang dalam makna. Hanya tiga ayat, namun seakan merangkum seluruh perjalanan hidup manusia:
Wal-‘ashrInnal-insāna lafī khusrIllallażīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr.
Demi Waktu, bahwa sesungguhnya manusia berada dalam kerugian kecuali yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Imam al-Shafi’i pernah menyatakan, seandainya manusia merenungi surat ini saja, niscaya itu telah cukup menjadi pedoman hidupnya.
Allah bersumpah demi waktu. Bukan demi matahari. Bukan demi bumi. Tetapi demi sesuatu yang tak terlihat, namun menentukan nasib semua yang terlihat.
Waktu adalah saksi tanpa suara. Ia tidak memihak, tidak menunggu dan tidak pernah kembali. Ia berjalan dengan ketepatan yang tak pernah keliru. Setiap detik yang berlalu bukan sekadar perpindahan angka pada jam, melainkan pengurangan jatah hidup.
Lalu datang pernyataan yang tegas dan menyeluruh:
“Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.”
Bukan sebagian manusia.Bukan hanya mereka yang gagal.Tetapi manusia secara keseluruhan.
Kerugian bukan sekadar kehilangan harta atau jabatan. Kerugian adalah ketika waktu habis, tetapi makna tak pernah lahir. Ketika usia bertambah, namun jiwa tidak bertumbuh. Ketika hidup tampak berhasil di mata dunia tetapi kosong di hadapan Tuhan.
Barangkali kita tidak merasa rugi.Kita masih bisa tertawa.Kita masih bisa bekerja.Kita masih bisa dipuji.
Namun Al-‘Asr tidak berbicara tentang perasaan.Ia berbicara tentang kenyataan yang kelak dibuka tanpa tirai.
Setiap detak jantung adalah pengurangan.
Setiap matahari terbenam adalah pengingat bahwa hidup sedang bergerak menuju akhir.
Namun Allah memberi pengecualian. Ada jalan agar manusia tidak tenggelam dalam kerugian itu.
Jalan itu bermula dari iman.
Iman bukan sekadar pengakuan lisan.
Ia adalah kesadaran mendalam bahwa Allah Maha Melihat:
Lā tudrikuhul abṣār wa huwa yudrikul abṣār wa huwa al-Laṭīful Khabīr.
Penglihatan manusia tidak mampu menjangkau-Nya, tetapi Dia menjangkau segala penglihatan, Dia mengetahui yang tampak maupun yang tersembunyi.
Bila keyakinan ini benar-benar hidup, integritas tidak lagi bergantung pada pengawasan manusia.
Tidak ada manipulasi yang disamarkan dengan retorika, tidak ada kebijakan yang dibangun di atas kepentingan sempit, tidak ada pengkhianatan yang dibungkus istilah indah.
Karena yang diawasi bukan hanya tindakan, tetapi juga niat.
Kita sering tidak merasa sedang berbuat salah.Kita hanya merasa sedang menyesuaikan keadaan.Kita menyebutnya strategi.Kita menyebutnya kompromi.
Tetapi waktu tidak mengenal istilah-istilah pembenaran.Ia hanya mencatat.
Dari iman yang hidup lahirlah amal saleh.
Amal saleh bukan sekadar ritual yang privat, melainkan keberpihakan nyata pada kebaikan. Ia hadir dalam kejujuran saat berdagang, dalam keadilan saat memimpin, dalam kesungguhan saat bekerja, dalam kepedulian saat melihat sesama terluka.
Hari ini kita menyaksikan kesibukan yang tinggi tetapi rendah menfaat. Aktivitas yang ramai, tetapi kontribusi yang minim.
Amal saleh menolak sekadar tampak tapi ia menuntut makna.
Namun amal tidak akan bertahan tanpa kebenaran.
Saling menasihati dalam kebenaran berarti menjaga nurani bersama. Kebenaran tidak selalu nyaman.
Ia bisa mengganggu posisi dan merugikan kepentingan. Tetapi ketika kebenaran dikorbankan demi citra atau jabatan, sesungguhnya yang hilang bukan hanya moralitas melainkan keberkahan waktu itu sendiri dan ketika jalan itu terasa berat, di situlah kesabaran menjadi penopang.
Kesabaran bukan sikap pasif. Ia adalah keteguhan untuk tetap lurus meski sendirian, tetap jujur meski dirugikan, tetap berbuat baik meski tak diapresiasi. Ia adalah keyakinan bahwa hasil bukan satu-satunya ukuran dan bahwa Allah tidak pernah keliru dalam membalas.
Tanpa kesabaran, iman mudah retak.Tanpa kebenaran, amal kehilangan arah.Tanpa amal, iman tinggal wacana.Dan tanpa iman, waktu hanya menjadi kerugian.
Semua berada dalam waktu. Salat memiliki waktunya. Puasa memiliki waktunya. Lahir dan mati pun berada dalam garis waktu. Kita tidak memiliki waktu tapi kitalah yang sedang dititipi olehnya.
Dan ketika Ramadhan datang, ia bukan sekadar bulan ritual. Ia adalah ujian integritas.
Puasa melatih kita jujur saat tidak ada yang melihat. Tetapi yang lebih penting: apakah kejujuran itu bertahan ketika kita kembali ke ruang publik?
Apa arti menahan lapar, jika tangan masih ringan mengambil yang bukan haknya?Apa makna menahan dahaga, jika lisan tetap memutarbalikkan kebenaran?Apa nilainya ibadah yang panjang, jika keadilan tetap dikalahkan oleh kepentingan?
Mungkin yang perlu kita tahan bukan hanya lapar dan dahaga,tetapi juga kecenderungan membenarkan diri sendiri.
Karena yang paling sulit ditundukkan bukan perut,melainkan ego.
Kelak bukan jabatan yang ditanya.Bukan reputasi yang dihitung.Bukan citra yang dipertahankan.
Yang ditanya adalah waktu.Untuk apa ia kita habiskan?
Dan ketika semua alasan telah gugur,yang tersisa hanya satu:apakah kita termasuk yang rugi,atau yang diselamatkan.
Demi wanci kagungan Gusti, semoga setiap detik yang berlalu menjadi cahaya yang menuntun kita pulang tanpa kerugian.***





