CITRAPEDIA | Pemerintah Kabupaten Bandung Barat terus memperkuat langkah antisipasi terhadap ancaman penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (zoonotik). Melalui kolaborasi lintas sektor, Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat menggelar Lokakarya Edukasi Pencegahan Penyakit Zoonotik sebagai upaya membangun kesiapsiagaan pemerintah, tenaga kesehatan, media, hingga masyarakat dalam menghadapi potensi wabah sejak dini.
Kegiatan yang berlangsung pada 9–10 Juli 2026 di Kantor Bupati Bandung Barat itu merupakan hasil kerja sama Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat dengan Portal Kesehatan Masyarakat (Portkesmas) dan Kelompok Kerja Risk Communication and Community Engagement (RCCE). Lokakarya melibatkan Dinas Peternakan, Dinas Komunikasi dan Informatika, Palang Merah Indonesia (PMI), promotor kesehatan, Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, serta insan media.
Lokakarya ini bertujuan meningkatkan efektivitas komunikasi publik, memperkuat koordinasi lintas sektor, serta mendorong partisipasi masyarakat dalam mencegah dan merespons penyakit zoonotik yang berpotensi menjadi wabah, seperti flu burung, rabies, antraks, dan leptospirosis.
Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bandung Barat, H. Dudy Prabowo, S.Sos., M.M., menegaskan pentingnya membangun kesiapsiagaan sebelum wabah benar-benar terjadi.
“Jangan sampai penyakit muncul dan menyebar saat kita belum siap. Justru di masa tenang inilah seluruh pihak harus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan,” ujarnya.
Sementara itu, Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat, dr. Enung Masruroh, M.M., mengatakan pengalaman menghadapi pandemi COVID-19 serta wabah flu burung pada 2007 menjadi pelajaran berharga bahwa kesiapan pemerintah dan masyarakat merupakan faktor utama dalam menekan penyebaran penyakit.
Dalam lokakarya tersebut, peserta juga mendapat pelatihan komunikasi interpersonal bagi promotor kesehatan agar mampu mengedukasi masyarakat secara efektif. Selain itu, peserta dibekali strategi menghadapi penyebaran hoaks terkait wabah penyakit, termasuk meningkatkan peran media dalam menyampaikan informasi kesehatan yang akurat, mudah dipahami, dan tidak menimbulkan kepanikan.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan Kabupaten Bandung Barat, drh. Acep Rohimat, M.Tr.A.P., menjelaskan bahwa penyakit zoonotik dapat menular melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi maupun lingkungan yang telah terkontaminasi.
Ia mengingatkan masyarakat untuk rutin memvaksin hewan peliharaan guna mencegah rabies, menghindari kontak dengan unggas yang sakit atau mati mendadak sebagai langkah pencegahan flu burung, serta menggunakan alas kaki tertutup saat beraktivitas di area yang tergenang air untuk mengurangi risiko leptospirosis.
Program Manager Portal Kesehatan Masyarakat, dr. Basra Ahmad Amru, menjelaskan bahwa kegiatan serupa juga dilaksanakan di Kota Bogor, Kota Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Surabaya, dan Kabupaten Malang sebagai bagian dari penguatan jejaring kesiapsiagaan daerah menghadapi penyakit zoonotik.
Ketua Pokja RCCE, Rizky Ika Syafitri, menambahkan bahwa masyarakat berhak memperoleh informasi yang benar dan mampu menyelamatkan jiwa. Menurutnya, komunikasi yang jelas, menarik, dan mudah dipahami akan mendorong masyarakat menerapkan perilaku pencegahan, dengan dukungan tenaga kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta media massa.
Melalui lokakarya ini, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat berharap sinergi lintas sektor semakin kuat sehingga deteksi dini, edukasi masyarakat, serta penanganan penyakit zoonotik dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan efektif sebelum berkembang menjadi wabah yang lebih luas.





