Bangga! Bandung Barat Lepas Ekspor Kopi Java Halu ke Empat Negara

CITRAPEDIA | Pemerintah Kabupaten Bandung Barat kembali mencatatkan prestasi membanggakan di sektor perkebunan. Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, secara resmi melepas ekspor kopi Java Halu ke empat negara, yakni Jepang, Australia, Vietnam, dan London, dengan total volume ekspor mencapai 20,4 ton.

Pelepasan ekspor tersebut menjadi bukti bahwa kopi asal Bandung Barat semakin mendapat pengakuan di pasar internasional. Keberhasilan ini juga diharapkan mampu mendorong semangat para petani kopi untuk terus meningkatkan kualitas hasil panennya agar mampu bersaing di pasar dunia.

Bupati Jeje Ritchie Ismail menjelaskan, terdapat empat jenis kopi yang dikirim ke negara tujuan dengan karakter rasa yang disesuaikan dengan selera konsumen di masing-masing negara. Jenis Natural Wicha dan Double Whos diekspor ke Jepang, Black Honey ke Australia, serta Luwak Enzim ke Vietnam. Sementara pengiriman ke London juga disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Total ekspor kali ini mencapai 20,4 ton. Angka ini terus mengalami peningkatan. Tentunya keberhasilan ini tidak lepas dari pendampingan kepada para petani dan upaya membuka akses pasar yang lebih luas. Saya berharap hal ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani kopi di Bandung Barat,” ujar Jeje, Senin (20/7/2026).

Ia menilai keberhasilan Java Halu menembus pasar internasional merupakan kebanggaan bagi masyarakat Bandung Barat. Menurutnya, pencapaian tersebut membuktikan kualitas kopi daerah mampu bersaing dengan produk dari berbagai negara.

“Insyaallah ini bisa menginspirasi para petani kopi untuk terus meningkatkan kualitasnya sehingga semakin banyak negara yang mengakui kopi asal Bandung Barat. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Rani yang telah bekerja keras mempromosikan Java Halu hingga dikenal di luar negeri,” katanya.

Jeje mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, kopi Java Halu akan digunakan oleh sejumlah gerai kopi ternama di luar negeri. Setiap negara memiliki karakter cita rasa yang berbeda sehingga produk yang dikirim disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Setiap negara memiliki selera yang berbeda. Ada yang menyukai rasa lebih asam, ada pula yang lebih menyukai rasa pahit. Karena itu jenis kopi yang diekspor disesuaikan dengan karakter konsumen di masing-masing negara,” jelasnya.

Sebagai penikmat kopi, Jeje mengaku telah mencicipi langsung kopi Java Halu dan menilai kualitasnya sangat layak bersaing di pasar internasional.

“Saya berharap kopi kita semakin dikenal luas, bukan hanya di empat negara ini, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Saya sudah merasakan sendiri kualitasnya, rasanya sangat luar biasa. Sebagai pecinta kopi, saya bangga Bandung Barat memiliki kopi berkualitas seperti Java Halu,” ungkapnya.

Sementara itu, Owner Java Halu Cafe sekaligus Founder & CEO Java Halu Coffee, Rani Mayasari Partadiredja, mengaku bersyukur karena akhirnya berhasil menembus pasar Vietnam setelah penantian selama tujuh tahun.

Menurut Rani, Vietnam merupakan salah satu negara yang paling sulit dimasuki karena memiliki regulasi impor yang sangat ketat. Di sisi lain, Vietnam juga dikenal sebagai produsen kopi terbesar kedua di dunia.

“Selama tujuh tahun kami menantikan momen ini. Menembus pasar Vietnam bukan hal yang mudah karena regulasinya sangat ketat. Alhamdulillah, akhirnya kopi Java Halu bisa diterima di sana,” ujar Rani.

Keberhasilan ekspor ke Jepang, Australia, Vietnam, dan London diharapkan menjadi awal semakin luasnya pasar kopi asal Bandung Barat, sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi para petani kopi di wilayah tersebut.***

You cannot copy content of this page