CITRAPEDIA | Pemerintah Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) guna membahas aspirasi masyarakat terkait lahan yang tergerus akibat bencana longsor. Kegiatan tersebut digelar di Aula Desa Pasirlangu, Rabu (22/4/2026).
Musdesus dihadiri berbagai unsur, di antaranya Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh masyarakat, RT dan RW, perwakilan Kecamatan Cisarua, Bhabinkamtibmas, Babinsa, BUMDes, Karang Taruna, serta Kepal Dusun juga PKK.
Kepala Desa Pasirlangu, Nur Awaludin Lubis, menyampaikan bahwa hingga saat ini pemerintah desa masih menunggu kepastian bantuan dari pemerintah kabupaten maupun provinsi terkait penanganan lahan terdampak longsor.
“Rencana ke depan tanah yang tergerus longsor akan dibenahi. Namun sampai saat ini dari pihak kabupaten maupun provinsi belum ada jawaban,” ujarnya.
Meski demikian, pemerintah desa tetap akan melakukan penanganan semampu yang dapat dilakukan di tingkat desa, termasuk memperbaiki jalur aliran air yang terdampak longsor.
“Kami akan berupaya secepatnya membereskan lahan tersebut semampu yang bisa dilakukan, termasuk membenahi jalur air agar tidak kembali menimbulkan masalah,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa masyarakat terus mempertanyakan kapan bekas longsor tersebut dapat ditangani, mengingat lahan tersebut merupakan sumber penghidupan warga yang digunakan untuk bertani.
“Masyarakat selalu bertanya kapan bekas longsor itu dibereskan, karena lahan tersebut akan digunakan kembali untuk pertanian,” tambahnya.
Dalam forum Musdesus tersebut, kepala desa juga meminta persetujuan dan gotong royong nya peserta rapat untuk melakukan langkah awal dengan menata kembali aliran sungai akibat material longsor dari arah Gunung Burangrang, termasuk rencana pembangunan tanggul sebagai upaya pencegahan.
Sementara itu, tiga bulan setelah bencana longsor yang terjadi pada 24 Januari 2026, proses pemulihan bagi warga terdampak masih terus berjalan.
Sebanyak 32 keluarga yang rumahnya tergerus longsor dan keluarnya meninggal masih mendapatkan perhatian dari pemerintah desa. Bantuan sembako hingga kini masih disalurkan setiap minggu untuk membantu kebutuhan mereka.
Selain itu, warga yang kehilangan lahan pertanian akibat tanah tergerus longsor juga tetap mendapatkan bantuan sembako setiap bulan karena mata pencaharian mereka ikut terdampak.
“Bantuan ini sifatnya stimulan. Yang paling penting adalah semangat warga untuk bangkit dan kembali mandiri. Alhamdulillah, semangat gotong royong masih sangat kuat,” kata Nur Awaludin.
Ia menegaskan bahwa proses pemulihan pascabencana memang membutuhkan waktu, namun kekompakan warga menjadi modal utama untuk bangkit kembali.
Pemerintah desa juga terus berkoordinasi dengan berbagai pihak agar penanganan dampak longsor di Pasirlangu dapat segera tertangani secara maksimal.
“Kami mohon doa dari semua pihak. Semoga Pasirlangu segera pulih, warga diberi ketabahan, dan bencana seperti ini tidak terulang lagi,” pungkasnya.





